Selasa, 04 Agustus 2015

Sepasang Bintang Kecil Itu Bercahaya Terang

Ibnu dan Lady duduk manis
 di kursi pelaminan
Wajah Ibnu Rozali terlihat canggung ketika mengenakan pakaian pengantin duduk manis diatas pelaminan indah ketika bergandengan tangan dengan Lady Nanda dalam acara akad dan resepsi pernikahannya di Kertapati Palembang, Kamis 02 Agustus. Ibnu dan Lady resmi menjalankan kewajibannya sebagai umat Islam. Raut mukanya bergaris layaknya terharu. Sesaat dia tertawa terpaksa, tak kuat menahan kebahagiaan itu. Iben, itulah sapaan akrabnya. Ia satu dari sepuluh anggota IKARAFAH (Ikatan alumni Raden Fatah) yang mampu menjadikan ia dan istri barunya seperti bintang kecil. Bintang itu menemukan hari indahnya untuk menyinari permukaan bumi yang datar.

Untuk sampai ke lembaran baru itu baginya tak lah mudah. Gonjang ganjing masalah internal kuat dihadapinya. Sebelum itu ia adalah seperti meteor diangkasa yang tak terlihat akan kegelapan. Pernikahannya di hari itu sungguh sangat spesial, meski begitu terlihat perasaan hati hari itu bercampur nan berkecamuk. Ia pandai menyimpan masalah pribadinya agar sepasang bintang kecil itu terlihat tetap bercahaya terang. Awal cerita, pagi itu handphone ku bergetar diam dan takberdering. Kulihat itu panggilan masuk dari Iben. Menjelang akad nikahnya  kuyakini dia sangat membutuhkan peran kami. Sebagai teman dekat, teman tidur, makan dan seperjuangan, itu menjadi suatu keharusan. Dalam panggilan masuk itu dia bertanya ; lagi dimana kalian rif? Sudah berngkat belum?. Itu menjadi tanda awal bahwa ia benar-benar membutuhkan tenaga kami.

Pada hari itu, aku dan empat temanku tentu sudah memiliki tanggung jawab masing-masing dalam mempersiapkan acara itu. Tak lain tugasku bersama Mahmud adalah menemui Kak Iwan (Photografer Profesional) untuk mengambil Power (kekuatan pengeras suara). Rando ditugaskan membantu Minsah dalam menyusun Sound system sedangkan Yayak memainkan orgennya.


Saat kedua mempelai menaiki
panggung
Hari itu tak terasa lelah, ditambah pandangan mataku tetap tertuju dengan sepasang bintang kecil itu yang duduk manis di kursi pelaminan di atas panggung yang berukuran 5x5 itu. Sesaat mata pengantin baru itu memandang para tamu undangan. Tak lupa hampir seluruh tamu itu tak melewatkan kesempatan untuk foto bersama. Mulai dari keluarga dekat hingga kepanitia pernikahan. Hatiku bergetar, bulu kudukku tegak bak seperti ketakutan. Aku terharu yang dulunya bintang itu seperti lemas dalam kesurapan kini berubah menjadi sepasang bintang untuk memulai memancarkan cahaya terang. Kuyakini sepasang bintang itu akan tetap selalu bahagia tak kala angin mengguncang, gelepan melanda dan masalah menerpa. Aku ingin mengucapkan semoga menjadi Sakinnah Mawaddah Warohma sepasang bintang kecil.
Ibnu Rozali And Lady Nanda*



Rabu, 27 Mei 2015

Aku Ingat


Ingatan terenyah karena hiruh-riuh
Mata melotot tajam karenamu
Akhir bukan tamat,
tapi aku ingat

Waktu hilang ditelan jam
Helusan kuduk malam datang,
“Kau pasti tak ingat,” katamu,
“Aku mengingatnya,” jawab hatiku,

Getaran prasangka buruk, akan,
ambruk jadi gubuk
wajah, aurah, dan tingkahmu,
aku ingatmu,

Jauh tak berarti hilang,
jarak mata terus memandang
tak terkekang,
aku mengingatmu,

Kesal, lelah, terengah-engah,
membekap hidup tak terarah
yakin,
aku ingat padamu.

Jumat, 22 Mei 2015

Menunggu








Terbangun dari gelap tidur
diikuti sayup-sayup sunyi tak
terukur,
bertanya, apakah ada?
Jiwa yang tak siap menerima


Sepi, sendiri, tak berarti,
dengungan angin berucap;
tunggu,
kau tak mengganggu



Arus jiwa yang retak,
“apakah tak ada yang peduli?”ucap jiwaku.
Balutan kain ditubuh,
jadi teman menunggu



Suara gaduh sampai tak menentu
menelisik lobang kecil ditubuh
“tunggu saja!!”, ucap bongkahan hati,
menantilah, tak usah kau takut mati

Ingin Sepertimu

Sibuk mengais karya-karyamu
Ketukan jam menusuk gendang telingaku

Putaran, berganti siang-malam

Sampai akhirnya, larut dalam kesepian
 



Denyut untuk kata hati,
apakah bisa sepertimu?

bakat harapan ada di nadi

terus berkarya akan cintaku
 



Ucapanku, pikirku,
tak tercermin sepertimu

resah rasa gelisah

teratasi akan karya?



Menunggu, momen kecil tak tau akan kembali
pikiran terusik kemauan hati,

Percaya; gerak gerik hitungan jari,

tak kan mati dalam menanti.






Kamis, 09 Oktober 2014

Ber Do'a Be Untuk Pemerintah Kedepan



Dalam beberapo pekan terakhir ini Negara kito ni lagi di heboh kan dengan ulah pemerintah yang nak ngerubah sistem Pilkada yang selamo ini di pilih secara langsung oleh rakyat menjadi sistem yang di pilih oleh DPRD. Hal ini lah yang jadike konflik di beberapa pihak pemerintahan, sebut sajo pemerintahan tim koalisi merah putih yang di huni oleh partai-partai politik yang nak minta keinginan cak itu. Tapi disisi lain idak banyak yang setuju dengan keinginan tim koalisi merah putih itu, bahkan dalam sidang putusan beberapo waktu lalu seperti tejingok ulah politisi yang dak sewajarnyo demi ngebela Pilkada langsung oleh rakyat, banyak kerebutan dengan emosi yang tinggi dan marah-marah. Walaupun pado akhirnyo keputusan dimenangkan oleh tim merah putih dan Pilkada sekarang dipilih oleh DPRD namun banyak keluhan baek dari masyarak bawah, menengah, sampai atasan-atasan yang dak setuju dengan keputusan cak ni dan tejingok jugo di TV bahwa pak SBY ni nerapkan Perppu sesudah keputusan siding cak itu,bahkan banyak media-media ngomongke SBY ini cak penghianat.
Yo tapi kalu menurut aku kito terimo be dulu, karena kito belum tau betul apo nian tujuan yang nak  dicapai pemerintah kedepan ni sampe-sampe ngerubah kebijakan cak ni. Dan kito jingok be cak mano kinerja pemerintah ni untuk rakyat kedepannyo, dan kito bedo’a be mungkin dengan kebijakan cak ni pemerintah lebih tau keinginan rakyat dan kito berharap be supayo wong atasan ni benar-benar jadi penyambung lidah rakyat nyo dan idak cuma mementingkan dirinyo dewek. Walaupun kito banyak bependapat dengan dipilihnyo kepalo daerah oleh DPRD akan banyak nimbulkan korupsi. Dan kito mohon dengan tuhan agar wong-wong yang cak itu supayo dijauhkan dari hal yang negative. Dan singkat lagi pendapat aku bahwa kalau Pilkada dak dipilih oleh rakyat berarti rakyat tidak melok dalam berpolitik dan rakyat dak pacak nak milih yang terbaik menurut diri dewek bahkan lebih takut lagi dengan hal cak ini hak rakyat biso-biso di rampas oleh wong yang dak katek pikiran.

Senin, 29 September 2014

Jadi Susah Oleh Asap


Semenjak duo minggu terakhir ni wong Palembang lagi heboh-heboh nyo dengan banyaknyo asap, bahkan untuk nak jingok ke jalan besak be lagi lah saro nian. Apolagi kalau waktu di atas jam 12, itu biso-biso dak kejingok’an lagi gedung-gedung tinggi di kota ini tu. Dan denger-denger kabarnyo bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) be di tutup untuk sementaro, tepakso banyak penumpang yang terlantar dan harus nunggu lamo, belum lagi wong nak jalan aktivitas jadi susah bahkan banyak tejingok untuk masyarakat di kota ini banyak yang pakai masker untuk ngejago kesehatan dirinyo. Memang sebelumnyo kabut asap yang terjadi akhir-akhir ini di kareno kan kebakaran lahan di beberapo daerah di Sumsel. Contohnyo kebakaran lahan di pinggir jalan Palembang-Indralaya itu yang makin meluas be, jingok-jingok di koran kemaren cak nyo pihak pemerintah terus berupaya untuk memadamkan api tapi kareno api di tambah dengan asap yang makin besak jadi sulit bagi petugas. Denagn informasi yang ado kebakaran ini sengajo di buat oleh oknum-oknum warga yang dak bertanggung jawab, dan akhirnyo oknum tersebut berhasil diringkus polisi, semoga be dengan itu buat di jadi tobat.